Kisah Nabi Ismail AS adalah salah satu narasi paling menyentuh dalam sejarah kemanusiaan, terutama ketika kita merenungkan ketahanan mentalnya. Bayangkan, seorang bayi ditinggalkan ayahnya di gurun pasir yang gersang. Sebuah pengalaman yang secara logis dapat menumbuhkan luka pengabaian yang mendalam. Namun, Nabi Ismail tumbuh menjadi pemuda yang santun, berjiwa besar, dan penuh ketenangan. Bagaimana mungkin mentalnya tetap sehat?
Kunci dari ketahanan mental Nabi Ismail terletak pada sosok ibunya, Siti Hajar as. Gurun itu memang gersang, tandus, dan sunyi, namun hati Siti Hajar tidaklah demikian. Ditinggalkan bertahun-tahun di lembah yang tidak berpenghuni, Siti Hajar memiliki segala alasan untuk merasa dibuang, marah, atau menyimpan dendam terhadap keadaan. Namun, beliau memilih jalan yang berbeda.
Siti Hajar menolak menularkan rasa pahitnya kepada putranya. Beliau tidak pernah mendoktrin Ismail dengan kalimat-kalimat yang menyiratkan kepahitan, seperti, “Ayahmu meninggalkan kita…” atau “Kita dibuang di tempat ini.” Sebaliknya, beliau mengisolasi kecemasannya sendiri, mengubah gurun yang sepi menjadi ruang tumbuh yang penuh kasih sayang dan harapan. Beliau memilih untuk menjadi penyembuh, bukan pembawa luka, memutus rantai trauma yang bisa saja diwariskan kepada anaknya.
Keputusan Siti Hajar ini sejalan dengan doa Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al-Quran, Surah Ibrahim ayat 37. Doa ini menunjukkan tujuan ilahi di balik penempatan mereka di lembah tandus tersebut:
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Ayat ini mengungkapkan bahwa penempatan Siti Hajar dan Ismail di lembah Mekah yang tandus bukanlah sebuah pengabaian, melainkan bagian dari rencana besar Allah SWT untuk mendirikan pusat ibadah dan dakwah. Nabi Ibrahim berdoa agar keturunannya mendirikan shalat, agar hati manusia cenderung kepada mereka, dan agar mereka diberi rezeki sehingga mereka bersyukur. Doa ini memberikan perspektif ilahi yang mengubah narasi 'ditinggalkan' menjadi 'ditempatkan' untuk tujuan yang lebih besar.
Dari doa ini, Siti Hajar mungkin memahami bahwa keberadaan mereka di sana memiliki makna yang mendalam dan bukan sekadar nasib buruk. Pemahaman ini memberinya kekuatan untuk menghadapi kesulitan dengan ketabahan dan keyakinan, serta menanamkan nilai-nilai positif kepada Ismail. Hasilnya, Ismail tumbuh menjadi pribadi yang mulia, siap menerima perintah Allah, bahkan ketika itu berarti pengorbanan dirinya, seperti yang tercatat dalam Surah As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Ketika anak itu sampai pada (usia) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Kisah ini mengajarkan kita bahwa luka dan trauma tidak harus diturunkan. Siti Hajar menunjukkan kepada kita bahwa kita memiliki pilihan untuk memutus rantai kepahitan. Beliau memilih untuk fokus pada harapan, keyakinan, dan kasih sayang, bahkan di tengah keterbatasan yang ekstrem. Lingkungan fisik mungkin keras, tetapi lingkungan emosional yang diciptakan oleh Siti Hajar adalah oase ketenangan.
Sebelum kita berusaha memperbaiki anak-anak kita atau lingkungan di sekitar kita, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: Apakah hari ini kita sedang mendidik mereka dengan luka masa lalu kita, atau dengan hati yang sudah berdamai? Pilihan ada di tangan kita, untuk menjadi sumber penyembuhan atau justru pembawa luka. Mari belajar dari Siti Hajar, untuk mengubah gurun kehidupan menjadi taman yang penuh keberkahan.
Ditulis oleh: Ustadz Matahari Satria, Lc
